
ADA baiknya yang ingin mengikuti prosedur implantasi payudara berpikir ulang setelah badan pengawas obat dan makanan AS (FDA) mengatakan Rabu (26/1) implan payudara dapat dikaitkan dengan risiko tinggi untuk kanker langka.
Meski buktinya belum terlalu kuat, semakin banyak kasus yang telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, kata FDA.
Menurut FDA, implan payudara baik dengan silikon maupun salin dapat dikaitkan dengan limfoma sel besar anaplastik (anaplastic large cell lymphoma/ALCL), yang bisa berkembang di dalam jaringan parut yang ditinggalkan oleh prosedur implan.
Tapi ahli mengatakan, risiko absolut bagi semua wanita mungkin akan sangat rendah.
"Limfoma adalah kanker yang melibatkan sel-sel sistem kekebalan tubuh dan ALCL adalah jenis limfoma yang sangat langka," kata Dr. William Maisel, kepala peneliti dan wakil direktur bidang ilmu pengetahuan di Center for Devices and Radiological Health di FDA.
"FDA berpendapat bahwa perempuan dengan implan payudara mungkin memiliki risiko kecil untuk pengembangan ALCL, tetapi risiko ini akan meningkat," katanya.
Hanya sekitar satu dari setiap 500.000 wanita Amerika didiagnosis dengan ALCL setiap tahun, tapi ALCL pada payudara bahkan lebih jarang, yakni terjadi pada tiga dari setiap 100 juta orang di Amerika Serikat.
"Dan yang perlu diketahui bahwa ALCL pada payudara tidak sama seperti kanker payudara," imbuhnya.
Dari 5 juta hingga 10 juta wanita di seluruh dunia yang menjalani implantasi payudara, FDA mensinyalir ada sekitar 60 kasus ALCL. Tetapi angka itu sulit untuk diverifikasi, karena beberapa kasus mungkin telah diduplikasi dalam laporan terpisah.
FDA meminta dokter untuk melaporkan setiap kasus ALCL, dan untuk pembuat implan agar memperbarui pelabelan dan informasi lainnya untuk memberitahu dokter maupun pasien mengenai potensi kenaikan risiko ALCL.
Keputusan FDA ini juga didasarkan pada penelitian yang diterbitkan 1997-2010 yang mengidentifikasi 34 kasus ALCL di antara perempuan baik yang memiliki implan silikon atau salin di seluruh dunia.
Di antara kasus-kasus itu, 24 kasus terkait dengan implan silikon, tujuh untuk implan salin dan jenis implan di tiga kasus sisanya belum diketahui, menurut FDA. Selain itu, 19 prosedur implantasi dilakukan untuk alasan kosmetik dan 11 digunakan dalam prosedur rekonstruktif. Sementara alasan untuk empat prosedur lainnya tidak diketahui.
Mayoritas kasus yang dicatat FDA ketika wanita pergi ke dokter biasanya mengeluhkan gejala seperti nyeri, benjolan, bengkak atau anomali dalam payudara mereka. Gejala ini sebagai akibat dari cairan, pengerasan daerah payudara di sekitar implan, atau massa sekitar implan payudara," kata lembaga itu. ALCL dapat diketahui dengan menguji cairan dan area di sekitar implan.
Gejala ALCL dapat berkembang dari satu sampai 23 tahun setelah seorang wanita mendapatkan implan payudara, menurut FDA.
"Perempuan dengan implan payudara yang tidak menunjukkan gejala atau masalah, tetap rutin memeriksakan diri," kata Maisel. "Dokter harus mempertimbangkan kemungkinan ALCL jika pasien mengalami keluhan di akhir pemeriksaan lanjutan dan cairan terus-menerus keluar di sekitar implan," tambahnya.
"Perempuan harus memantau implan mereka dan melaporkan setiap terjadi perubahan, terutama yang terjadi setelah implan payudara sembuh sepenuhnya," kata Maisel.
ALCL biasanya diobati dengan kemoterapi dan radiasi, dan kadang-kadang operasi, Maisel mencatat